Raldi A. Koestoer | Recently... | Elsewhere | Search | Login |

This is the area where you can put a text about yourself or your blog. You can change the colours and the layout as you like, but please keep the footer link the way the way it is so that other can find the way back to me. Thanks for using this theme, I really appreciate it. This theme is released under those Creative Commons terms of use. And now ENJOY and get blogging!

continue reading this article






fancy

Sekelumit Sejarah Teknik Mesin (bag 2)

15 08 2007

16

…. Pada tahun 1970 mulai Jurusan Mesin menghasilkan insinyurnya, meskipun arsitek, sipil dan elektro sudah menghasilkan lebih dahulu. Ujian insinyur yang pertama dihadiri oleh Rektor Prof. Dr.Ir.Soemantri Brodjonegoro dan Dekan Prof. Ir. Roosseno. Gimana bisa menghasilkan insinyur, workshop dan laboratorium saja nunut di PNKA dan ITB. Waktu ujian insinyur kedua pejabat UI ketemu saya dan para beliau minta agar saya bisa ditugaskan full-timer sebagai dosen di FTUI. Saya tidak berkeberatan, maka Rektor dan Dekan menulis ke pimpinan TNI-AD agar saya bisa ditugaskan di UI. Oleh Pimpinan TNI-AD dijawab, bahwa saya masih dibutuhkan tenaganya di TNI-AD, tetapi diizinkan mengajar di UI asal tidak mengganggu tugas utamanya.
Bersambung(bag 2)…

..Lanjutan bag 2.

Waktu Bapak Suhari Sargo mengundurkan diri sebagai Kajur, maka diadakan pemilihan Kajur baru. Ternyata ada dosen muda Saudara Sri Bintang Pamungkas mendapat dukungan pertama dan yang kedua Saudara Poerwoto. Saudara Sri Bintang Pamungkas sudah saya kenal sewaktu masih mahasiswa di ITB. Sewaktu saya menjadi moderator suatu rapat di ITB, maka ada seorang mahasiswa yang menawarkan diri membantu saya, nama-nya Sri Bintang Pamungkas pada tahun 1968. Waktu saya tanya kapan akan selesai, dijawab bulan depan. Ternyata pemuda energik ini setelah lulus menjadi dosen tetap di FTUI.

Persoalan hasil pemilihan ini, saya sebagai seorang demokrat setuju yang mendapat suara terbanyak yang jadi Kajur dan yang nomor dua jadi Sekjur. Selanjutnya saya tidak mau campur tangan, karena tugas saya yang saya sanggupkan adalah mengajar bukan campur tangan policy management suatu departemen. Ternyata di dunia akademis juga terdapat aliran otokrasi alias anti-demokrasi. Mungkin ada kasak kusuk, maka yang menjadi kajur bukan Sdr Sri Bintang Pamungkas, tetapi Bapak Poerwoto, karena Sdr Sri Bintang dinilai masih “muda”. Dalam hati saya ini “akal-akalan” saja. Mana ilmu kenal muda dan tua. Menurut saya, bahkan yang muda harus di “push” agar mau ke depan. Masih ada kelanjutannya, saudara Sri Bintang di “pecat” sebagai dosen. Lo saya yang berbaju hijau berfikir demokratis kok malah yang civil society berfikir autocratic. Kalau tidak salah Dik Bintang datang di rumah saya sore hari memberi tahu kejadian ini. Alangkah kaget saya waktu itu. Masih ingat saya sebagai orang demokrat tidak mau belajar di negeri facsis, kok malah dihadapan saya ada kejadian yang non-democratic. Maka kepada dik Bintang saya sanggupi akan saya bantu menyelesaikannya. Memang dik Bintang dosen muda baru, tetapi saya sudah kenal sejak 7 tahun yang lalu. Akhirnya sesepuh kita Prof. Ir. Suwardi memanggil saya dan beberapa “senior”, untuk membicarakan kejadian yang sangat “unik” ini. Sebelum ada pemilihan kajur, saya selalu melihat dik Bintang mempersiapkan diktat kuliah secara teratur, disiplin dan rajin. Jiwa muda yang energik ini sangat mengesankan pada saya.

Hasil pembicaraan pinisepuh Prof. Suwardi dan para senior adalah men “daulat” saya, untuk mau menjadi Kajur Mesin minimal satu termin. Demi tanah air dan bangsa, demikian biasa kata-kata akhir saya, usul para senior yang diprakarsai pinisepuh, Prof. Suwardi, saya terima. Kepalang basah saya sudah bercita-cita dan mimpi sejak 1939 mau menjadi dosen ada tantangan masa saya menghindar. Semua tantangan harus saya hadapi dan sedapat mungkin saya ubah menjadi peluang (opportunity). Lalu Prof. Suwardi dan saya melaporkan putusan ini ke Dekan, Bapak Suwondo di rumahnya di Rawamangun kompleks perumahan UI. Dulu Bapak Suwondo kalau tidak salah dosen di ITB dan belajar bersama saya di Delft Nederland. Maka sejak pertengahan tahun 1975 saya menjabat sebagai Ketua Jurusan Mesin FTUI yang ternyata banyak problem “sentimental”. Banyak hal yang tidak logis kalau suatu problem diselesaikan secara logis. Bulan pertama hambatannya mulai terasa. Bulan kedua saya sudah bisa mengidentifikasi permasalahannya. Bulan ketiga saya coba mencari solusi yang menurut saya benar dan dapat saya laksanakan. Problem utamanya ternyata dosen seniornya luar biasa, sedangkan dosen yuniornya tetap bahkan ada yang “biasa di luar”. Kata disiplin tidak pernah terbaca di Jurusan Mesin. Padahal disiplin bagi saya makanan kacang goreng dan tidak membebani sama sekali. Sebab kalau waktu perang saya tidak disiplin, mungkin saya sudah “game”. Maka habit saya adalah disiplin dalam darah daging demi keselamatan diri. Sebetulnya waktu ada pemilihan kajur mesin pengganti Pak Suhari Sargo, saya mempersiapkan diri untuk mengajar di Malaysia. Saya diangkat sebagai Guru Besar teknik mesin di Kualalumpur. Maka saya tidak mau di calonkan sebagai ketua jurusan. Tetapi karena saya didaulat menjadi ketua maka saya batalkan pergi Malaysia. Saya pikir dari pada saya memintarkan orang Malaysia, lebih baik saya memintarkan kawula muda Indonesia. Maka setelah saya jelas didaulat, saya pergi ke ITB mengundurkan diri saya membantu universitas di Malaysia. Ketua Panitya pengirimannya adalah Prof. Dr.Moedomo.

Suatu waktu sore Pak Suhari Sargo mengajak makan saya dan 2 orang kolega lainnya di salah satu restoran di Dukuh Atas. Waktu makan sambil menikmati hidangan yang lesat kita bisa bicara macam-macam tanpa beban. Ternyata pertemuan non-formal ini berkesan pada saya. Maka cara Pak Suhari Sargo mengajak makan malam ini menjadi inspirasi bagi saya untuk mendekatkan para dosen baik senior dan yunior agar dapat saling kenal. Bukan hanya kenal ilmunya saja, tetapi juga kenal keluarganya. Maka saya putuskan tiap bulan kita adakan pertemuan bergilir diantara para dosen senior dan yunior dirumahnya masing-masing. Ternyata gumpalan es yang beku bisa cair. Kebetulan sekali saya menunjuk Pak Sularso sebagai Sekre-taris Jurusan Mesin. Beliau orangnya aktif dan banyak idea sehingga sangat kreatif.

Kepada beliau saya sampaikan, bahwa para dosen muda harus kita “push” belajar ke luar negeri agar terjadi “brain washing”. Ternyata Pak Sularso setuju, bahkan beliau juga ceritera bahwa beliau baru saja pulang dari Jepang belajar di Tokyo.

Diantara mahasiswa yang saya kenal dapat berprestasi tinggi adalah Saudara Raldi Artono dan Saudara Budiarso. Mereka dapat saya kenali langsung, karena mereka pengurus Ikatan Mahasiswa Mesin. Saya tahu dari nilai, bahwa masih banyak mahasiswa yang mampu saya bibitkan untuk menjadi ilmuwan, seperti waktu senior asisten di TH Karlsruhe mengintro-duser saya menjadi asisten. Kepada Saudara Raldi Artono saya beritahukan, apakah ia masih ingin jadi insinyur atau jadi pimpinan ormas. Tidak tahu tanggapan Saudara Raldi Artono. Pokok ia melepaskan pimpinan IMM dengan upacara dan saya bisa hadir.

Bersama Sdr Sularso, saya mencari dana untuk mengembangkan work shop dan laboratorium Mesin. Di daerah belakang UI sudah ada bangunan baru yang kosong, karena belum ada isinya. Sekretaris Jurusan Mesin Sau-dara Sularso memang banyak akal dan networknya. Saya diberi tahu, bahwa yang mengurus pembangunan UI adalah Dr.Prangtopo dari FMIPA. Mende-ngar itu saya tidak membuang waktu, karena saya kenal Dr.Parangtopo. Beliau masih ada hubungan saudara dengan saya, maka bersama Sdr.Sularso saya datang ke Dr.Parangtopo dan mengajukan proposal. Setelah memberi-kan proposal saya tidak mengurus lagi pokok wait and see.

Berikutnya ada tawaran beasiswa ke Perancis. Tanpa ragu dan yakin saya tunjuk lulusan baru Saudara Raldi Artono, Saudari Sri Murni dan Sau-dara Sularso. Saya menunjuk Saudara Sularso supaya bisa membandingkan Universitas Eropa dan Jepang juga. Meskipun saya menunjuk 3 orang, me-reka harus masih mengikuti ujian saringan yang waktu itu Ketua Panityanya adalah Prof.Dr.Mudomo dari Pascasarjana ITB. Saya optimis bahwa kandi-dat yang saya ajukan akan diterima. Waktu ujian saringan saya secara pri-badi hadir, juga PR-I Prof. Dr.Suyudi. Kebetulan Prof.Dr.Mudomo adalah adik kakak ipar saya. Ternyata kandidat dari Jurusan Mesin ketiganya diteri-ma semua.

Dengan kepergian Saudara Sularso bertugas belajar ke Perancis, maka saya memanggil alumni FTUI Saudara Ir. Bambang Suryawan untuk mem-bantu saya sebagai Sekretais Jurusan. Ternyata Saudara Bambang Suryawan sudah bekerja dan berpenghasilan cukup tinggi dan mendapat mobil dinas pula. Saya tidak tahu apa yang ia pikirkan. Sudah berkeluarga, penghasilan lebih besar dari pada gaji di FTUI dapat mobil dinas lagi. Ia hanya menjawab: Sanggup. Apa artinya sanggup? Ternyata benar ia datang lapor saya dan sanggup membantu. Dan setelah Saudara Bambang Suryawan masuk ternyata peralatan workshop dan laboratorium datang. Semua ditangani oleh dik Bambang. Bahkan labnya saya harap bisa membantu PTS di Jakarta. Jadi mereka tidak perlu ke ITB Bandung. Karena waktu itu saya juga menjabat Dekan FTAJ, maka dik Bambang saya minta juga membantu saya di FTAJ. Setidaknya mengurangi kekurangannya penghasilan setelah masuk sebagai dosen tetap di FTUI.

Setelah saya mengirimkan tugas belajar dosen muda ke luar negeri, maka selanjutnya agak mudah. Memang suatu hal baru itu tentu sulit untuk pertama kalinya.

Ternyata tidak semua yang pandai-pandai mau saya recrute untuk menjadi dosen di FTUI. Mereka memilih mencari pekerjaan diluar FTUI. Memang ada beberapa yang datang ingin menjadi dosen FTUI, tetapi kalau prestasinya pas-pasan saya agak berkeberatan. Nanti Jurusan Mesin bisa “inbreeding”. Saya butuh lulusan yang pinter dan dedikatif, maka saya mengadakan “penelitian” mahasiswa yang bisa saya recrute jadi dosen.

Dari pengalaman kerja dan mengawasi orang, maka saya harus punya staf yang mampu mengajak alumni yang berprestasi untuk “back to campus” Maka setelah Saudara tris budiono lulus, saya tidak buang waktu ia saya minta langsung membantu saya sebelum ia meninggalkan almamaternya. Bagi saya sebagai manager kemampuan dik tris meyakinkan saya, bahwa di Jurusan akan terkumpul manusia yang berdedikasi meningkatkan profesi dan kompetensi. Ternyata mereka yang saya minta membantu di jurusan selalu menjawab ”ya” atau “lain kali” alias menolak, tetapi dik tris lain lagi. Suatu waktu ia menemui saya ingin bicara dengan saya. Waktu saya berikan jam 14.00 di ruang kerja saya di lantai 2 diatas workshop. Ternyata dik tris bertanya, mengapa ia saya minta membantu saya. Maka saya jelaskan: Dik Anda saya minta membantu saya, agar mereka yang berprestasi akan mau “back to campus”, saya tahu serta yakin, bahwa “approach” dik tris budiono tidak akan gagal. Penunjukkan saya kepada dik tris budiono tidak sia-sia, karena dewasa ini di DTM berkumpul tenaga yang berprestasi. Bahkan belakangan ini dari pengamatan saya dik tris adalah “mercu suar” DTM yang menunjukkan etika profesi. Like or dislike ia adalah seorang ilmuwan di DTM yang teguh dan consistance terhadap pendiriannya yang menurut saya selalu concern terhadap kemajuan DTM. Mungkin kalau saya tidak menunjuk dik tris budiono sebagai asisten saya merecrute dosen muda sejarah DTM akan lain.

Ilmu teknik mesin tidak bisa diumbar sesuka keinginan dari Kajur Mesin. Maka saya bentuk sistem “kabinet-kabinet”. Kabinet konversi energi saya pimpin sendiri, kabinet konstruksi saya serahkan Pak Suhari Sargo, kabinet air conditioning saya serahkan Prof.Suwardi, kabinet Industri saya serahkan Pak Poerwoto dan kabinet perkapalan saya serahkan kepada pak Triwitono.

Pembentukan kabinet itu saya maksud agar “mendidik” mahasiswa bisa lebih terarah dan tidak asal jadi. Apa gunanya kalau ilmu yang dikuasai hanya kulitnya. Bukan yang banyak yang baik, tetapi yang baik adalah yang banyak. Waktu saya menentukan arah seperti itu memang ada hambatan dari dosen-dosen senior. Tetapi dasar saya pernah jadi komandan, maka penjelasan saya lebih seperti “perintah”. Setelah satu semester tiada lagi hambatan.

Ternyata dari Dekan ada “perintah” suapaya mau merintis program studi “gas”. Saya tidak keberatan. Maka program studi gas ini yang katanya kerjasama dengan Pertamina dipimpin oleh Ibu Windrati Afiat et.all. Maka ini juga saya namakan kabinet gas.

Dalam benak saya yang pure mesin adalah: konversi energi, konstruk-si dan air conditioning. Lainnya saya pesankan agar disiapkan menjadi jurusan. Jurusan Industri, Jurusan Gas dan Jurusan Kapal.Waktu itu saya perkirakan kabinet Kapal sudah bisa jadi Jurusan Kapal karena di Jakarta banyak insinyur kapal. Bahkan mahasiswa FT-Hasanudin jurusan kapal mengikuti kuliah dan ujian terakhir di FTUI. Lulusannya dewasa ini sudah menjadi Doktor. Saya dan Dr.Ir.Raldi Artono turut mengujinya di Makassar. Bahkan sekarang beberapa dari 5 orang Doktor sudah menjadi profesor.

Dengan bentukan kabinet-kabinet ini maka beban mata kuliah bagi mahasiswa tidak banyak, tetapi dapat didalami ilmu dan pengetahuannya. Dengan demikian harapan saya lulusannya menjadi academic person dengan profesi dan kompetensi yang jelas dan baik.

Ide saya membuat kabinet-kabinet ini yang akan saya terapkan di PTS tidak berjalan.Tapi di FTUI sekarang sudah ada DTG dan DTI. Tinggal tunggu DTK.

Otak manusia itu kan terbatas bite-nya, meskipun melebihi 500 GB. Barang yang sudah masuk “hard-disk” manusia sangat sulit di-delet. Salah-salah jadi trauma. Maka sampai sekarang saya berpedoman di pendidikan adalah yang baik yang banyak, bukan yang banyak yang baik. Nanti kalau sudah lulus silahkan “ambil risiko” sendiri berkembang. Belum tentu orang yang belajar teknik mesin selama hidupnya akan berkecimpung di bidang permesinan. Berilah dasarnya sebagai basic yang kuat, nanti kalau mau ber-kembang sudah tahu jalannya. Kalau mau pindah profesi masih mungkin karena hard disknya belum penuh.

Setelah 3 orang dosen muda tadi saya kirim ke Perancis, maka seperti saya jelaskan lainnya tinggal menyusul. Maka selanjutnya dik Bambang saya kirim ke Leuven Belgie. Dan yang mengganti Sekretaris Saudara Made Kartika Dhiputra.

(Masih akan bersambung bag 3, terakhir).

categories Published under: Mechanical Engineering, Pendidikan, jurusan Mesin, kehidupan
Tags:


Leave a message or two

This post was written on the Wednesday, August 15th, 2007 at 5:01 pm and categorized under Mechanical Engineering, Pendidikan, jurusan Mesin, kehidupan. You can follow the ongoing discussion by subscribing to the RSS 2.0. You can leave a reply, or Trackback.


16 comments so far



  1. vincent wrote on 13. February 2009 at 4:32 pm o'clock                  

    wah2. ternyata dosen2 kami sekarang dulunya adalah mahasiswa2 yang berprestasi.

    kira-kira dari angkatan saya (2006), mahasiswa yang berprestasi mau tidak ya menjadi dosen?

    atau mau kerja di perusahaan minyak?

    haha…

  2. Baiqunni wrote on 16. February 2009 at 1:30 pm o'clock                  

    Betul..
    Betul..
    Bukan yang banyak yang baik, tapi yang baik yang banyak..
    The best dah..

  3. david sidebang wrote on 17. February 2009 at 1:36 pm o'clock                  

    wah ternyat pak tris sbagai “mercu suar “di dtm salut…..
    siapa ya the next yang dpat beasiswa dari 2006 ke luar negri……??

  4. Daryl wrote on 25. November 2014 at 1:45 pm o'clock                  

    pigment@emulsified.maht” rel=”nofollow”>.…

    thanks for information!…

  5. edwin wrote on 26. November 2014 at 5:00 pm o'clock                  

    infantrymen@wadded.immature” rel=”nofollow”>.…

    thanks!!…

  6. ross wrote on 27. November 2014 at 7:59 am o'clock                  

    expensive@grokked.homesick” rel=”nofollow”>.…

    tnx….

  7. kenneth wrote on 29. November 2014 at 6:19 am o'clock                  

    disappointment@mm.imposing” rel=”nofollow”>.…

    ñïñ çà èíôó!…

  8. shaun wrote on 07. December 2014 at 4:27 am o'clock                  

    arapacis@infrequently.doormen” rel=”nofollow”>.…

    thanks!…

  9. Andre wrote on 14. December 2014 at 3:22 pm o'clock                  

    ares@scripps.appearance” rel=”nofollow”>.…

    ñïàñèáî çà èíôó!…

  10. Clarence wrote on 26. December 2014 at 7:09 pm o'clock                  

    resigning@parachutes.comrade” rel=”nofollow”>.…

    ñïñ çà èíôó!!…

  11. francis wrote on 05. February 2015 at 8:26 pm o'clock                  

    scrub@sizova.featured” rel=”nofollow”>.…

    ñïàñèáî çà èíôó….

  12. alfredo wrote on 06. February 2015 at 4:50 am o'clock                  

    fever@projections.lingually” rel=”nofollow”>.…

    thanks….

  13. Daryl wrote on 06. February 2015 at 5:24 am o'clock                  

    welding@och.volleyball” rel=”nofollow”>.…

    good info….

  14. Ken wrote on 06. February 2015 at 5:56 am o'clock                  

    nishima@fulfillment.powder” rel=”nofollow”>.…

    hello!!…

  15. cecil wrote on 06. February 2015 at 6:29 am o'clock                  

    slot@steepest.ornament” rel=”nofollow”>.…

    ñïñ!…

  16. Tommy wrote on 10. February 2015 at 8:28 am o'clock                  

    memos@vegetarian.bumping” rel=”nofollow”>.…

    thank you!!…

Name (required)

Email (required)

Website



XHTML: The following tags are allowed:

    <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Please leave a comment








  • Categories

  • Tags

  • Archives