Raldi A. Koestoer | Recently... | Elsewhere | Search | Login |

This is the area where you can put a text about yourself or your blog. You can change the colours and the layout as you like, but please keep the footer link the way the way it is so that other can find the way back to me. Thanks for using this theme, I really appreciate it. This theme is released under those Creative Commons terms of use. And now ENJOY and get blogging!

continue reading this article






fancy

Sekelumit Sejarah Teknik Mesin UI (bag 3 selesai)

2 10 2007

19

Sekelumit Sejarah Teknik Mesin UI (bag 3 selesai)

Oleh: Prof. Nakoela Soenarta (82 th)

Otak manusia itu kan terbatas bite-nya, meskipun melebihi 500 GB. Barang yang sudah masuk “hard-disk” manusia sangat sulit di-delet. Salah-salah jadi trauma. Maka sampai sekarang saya berpedoman di pendidikan adalah yang baik yang banyak, bukan yang banyak yang baik. Nanti kalau sudah lulus silahkan “ambil risiko” sendiri berkembang. Belum tentu orang yang belajar teknik mesin selama hidupnya akan berkecimpung di bidang permesinan. Berilah dasarnya sebagai basic yang kuat, nanti kalau mau ber-kembang sudah tahu jalannya. Kalau mau pindah profesi masih mungkin karena hard disknya belum penuh.

Setelah 3 orang dosen muda tadi saya kirim ke Perancis, maka seperti saya jelaskan lainnya tinggal menyusul. Maka selanjutnya dik Bambang saya kirim ke Leuven Belgie. Dan yang mengganti Sekretaris Saudara Made Kartika Dhiputra.

Ada kejadian yang unik. Atas usaha sendiri Saudara Indraputra dapat beasiswa ke Inggris. Ternyata Saudara Indraputra lulusnya baik, sehingga Profesornya menulis kepada saya, bahwa beliau akan membimbing Saudara Indraputra sampai Doktor kalau diizinkan dan akan dibeayai oleh Universitas Inggris. Tanpa pikir panjang saya pinta Saudara Made Kartika membuat jawaban bahwa saya setuju. Jadi Saudara Indraputra tetap di Inggris meneruskan ke Doktor. Akibatnya saya mendapatkan tegoran oleh pimpinan, mengapa Saudara Indraputra diizinkan meneruskan Doktor, tanpa izin atasan. Inilah birokrasi yang saya tidak banyak bisa mengikuti. Sebab ini adalah kesempatan. Dan biasanya kesempatan hanya datang satu kali, maka saya berani memutuskannya. Pokoknya agar hubungan tetap baik dengan atasan saya minta maaf. Menurut saya kalau Saudara Indraputra jadi Doktor yang untung FTUI dan pribadi. Saya hanya secara tidak langsung untung mengantar para kader bangsa menjadi well educated person. Lagi pula kok dipersoalkan, sebab yang membeayai kan bukan Indonesia. Memang ada aturan yang telah lulus harus langsung kembali. Menurut saya aturan jangan dibuat kaku. Toh yang membuat aturan manusia bukan hukum alam. Prinsip seperti ini sampai sekarang saya pegang. Kalau toh tidak merugikan orang bahkan menguntungkan aturan tidak perlu diikuti secara kaku.

Suatu waktu saya mendapat tilpun dari Ibu Mimi, sekretaris Rektor, bahwa sore hari Prof. Mahar Mardjono mau berkunjung ke Jurusan Mesin. Ada kehormatan apa kok Rektor mau berkunjung ke Jurusan Mesin. Maka saya kumpulkan beberapa dosen yang dapat menghadiri pertemuan yang istimewa ini. Seorang Rektor mengunjungi Jurusan Mesin adalah suatu kehormatan dan istimewa. Waktu Rektor bertemu dengan para dosen Mesin yang dapat hadir, menganjurkan agar para dosen mau menulis, meneliti, mengadakan pengabdian kepada masyarakat, pokoknya Tridharma. Fakultas Teknik adalah fakultas yang termuda. Maka kalau banyak yang mau meneliti dan menulis akan dibantu untuk mencapai jabatan guru besar. Jadi intinnya kedatangan Rektor akan mempush para dosen untuk maju. Lebih-lebih yang muda untuk menambah ilmu dan sebagainya. Wejangan Rektor saya anggap sangat positif lebih-lebih saya anggap, bahwa Rektor sangat dan sangat concern terhadap pembangunan Fakultas Teknik dan sore itu terutama Jurusan Mesin. Secara pribadi saya merasa tersanjung dengan kedatangan dan wejangan Rektor. Tetapi yang sebenarnya saya rasakan adalah dorongan dan “cambuk” untuk maju. Maka kepada para dosen senior saya himbau menulis dan meneliti. Bisa di mulai dengan menulis diktat yang selanjutnya bisa dibukukan. Atau menulis tentang ilmu yang digelutinya. Hasil tulisan atau hasil karya para dosen akan menambah jumlah perpustakaan yang ada. Ternyata untuk mengajak dosen senior menulis dan membuat diktat saya mendapat hambatan dan kesulitan. Bagaimana tidak? Para dosen umumnya adalah pejabat negeri di departemen masing-masing dan sehari-harinya sudah sibuk dengan tugas negara. Imbalan finansial tidak memadai. Maka saya juga tidak memaksa mereka menulis. Yang penting bagi saya adalah ilmu yang dikuasainya diteruskan kepada para mahasiswa muda yang ingin menjadi insinyur.

Dari pengamatan saya ada 2 mata kuliah yang saya anggap agak kurang mantab. Mata kuliah itu adalah mathematika dan phisika. Ternyata 2 mata kuliah tersebut diajarkan oleh para insinyur. Menurut saya pengetahuan mathematika seorang insinyur agak terbatas dan terlalu pragmatis. Maka saya minta Saudara Dra. Noeniek Soemartoyo dan Saudara Luhantara untuk membantu saya. Maka akhirnya saya mendapatkan bantuan dosen-dosen dari FMIPA untuk mata kuliah mathematika dan phisika.

Banyak pertanyaan yang ditujukan kepada saya sebagai Ketua Jurusan kalau menerima dosen muda baru, lalu yang sudah berkerja dikirim belajar keluar negeri. Yang saya inginkan para dosen lulusan Jurusan Mesin jangan menjadi “fotokopi” dosen pembimbingnya. Kalau ini terjadi maka yang akan timbul adalah inbreeding. Untuk merekrut dosen dari PTS belum bisa apalagi waktu itu saya menilai lulusannya hanya pas-pasan. Saya tahu ini karena selama saya menjadi Ketua Jurusan Mesin oleh Kopertis saya diangkat menjadi Ketua Panitya Ujian Negara dan Bapak Ir Slamet Dirham sebagai Sekretarisnya. Untuk merecrute dari ITB tidak begitu gampang. Yang saya ketahui dosen muda dari ITB hanya Sdr. Sri Bintang Pamungkas. Lainnya umumnya sudah senior, misalnya Bapak Ir Suhari Sargo, Ir.Slamet Dirham, Ir. Poerwoto, lainnya dari Nederland, Jerman dan Rusia.

Meskipun saya membutuhkan dosen yang profesional dalam ilmunya, tetapi saya harus waspada dan tidak asal menerima, karena di benak saya selain saya sebagai pakar ilmu teknik mesin, ternyata saya juga seorang perajurit dan berilmu intelijens. Suatu waktu ada seorang Doktor bidang Mekanika lulusan Rusia yang datang pada saya akan melamar sebagai dosen di Jurusan Mesin. Ia menunjukkan transkripnya bagus. Karena ia lulusan dari Rusia maka ia saya minta hasil screeningnya dari Kodam Jaya. Maka saya berikan surat pengantar untuk mendapatkan screening dari Kodam Jaya. Ternyata yang bersangkutan tidak kembali lapor saya. Memang kewaspadaan dan kehati-hatian dari cara memimpin institusi perlu menjadi perhatian. Memimpin instansi publik jangan mengikuti naluri dan nalar saja. Perlu nurani turut serta memberikan perimbangannya.

Seperti yang biasa saya katakan kepada siapapun, menurut saya manusia sebagai human creature dilengkap dengan “power” naluri, nalar dan nurani. Tumbuh-tumbuhan dan hewan dilengkapi dengan naluri. Artinya menurut naluri, biji salak yang disebar di kebon durian tidak akan tumbuh menjadi durian. Nalurinya memang biji salak. Meskipun seekor singa makan daging, tetapi meskipun ia lapar tidak akan menyantap anaknya. Juga manusia kalau anaknya yang balita nangis diberi makan atau minum. Itu naluri. Tetapi tumbuh-tumbuhan dan hewan tidak diberi nalar untuk berfikir, mana yang benar dan mana yang salah atau dilengkapi dengan nurani yang dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

Maka memimpin suatu institusi pendidikan, jangan hanya membuat si anak didik hanya menjadi pinter, tetapi diajak mengembangkan penalarannya dan mempertajam nuraninya, meskipun tidak boleh mengabai-kan nalurinya. Karena kalau tanpa naluri, maka manusia akan menjadi robot. Jadi mendidik seorang menjadi bernalar sebagai insinyur tidak sulit. Kalau bisa didiklah menjadi diri pribadi sendiri yang bisa memanfaatkan nalurinya nalarnya dan hati nuraninya. Itulah yang menjadi pedoman saya memberi kuliah pada para calon sarjana. Lulusan Jurusan Teknik Mesin FTUI saya harapkan menjadi seorang creative problem solver, bukan problem maker.

Pada pembentukan kabinet tahun 1978, maka oleh Menteri Pekerjaan Umum saya diangkat sebagai pejabat eselon IIa, Kepala Pusat Pembinaan Peralatan, maka saya mengundurkan diri sebagai anggota Team Gabungan Penelitain Kecelakaan di KA. Pada waktu itu saya sedang menjabat Ketua Jurusan Mesin untuk termin ke-3. Ternyata oleh Menteri P dan K. Dr. Daoed Joesoef dikeluarkan peraturan Menteri, bahwa yang dapat menjabat, jabatan struktural hanya dosen tetap. Dosen
tidak tetap tidak boleh lagi menjabat jabatan struktural seperti saya juga tidak boleh menjabat sebagai Ketua Jurusan. Maka saya lapor kepada Dekan Ir. Boy Mewengkang, bahwa sesuai aturan saya akan menbgundurkan diri sebagai Kajur, lagi pula saya bertam-bah tugas menjabat eselon IIa di Dep.PU. Ternyata berita saya mau mundur sebagai Ketua Jurusan Mesin cepat tersebar. Begitu cepat sehingga ada berita bahwa Menteri P dan K tidak setuju. Ada yang datang ke rumah saya menyatakan pendapat Menteri agar saya tetap menjabat Ketua. Saya tetap pada pendirian saya akan mundur. Maka suatu hari saya dipanggil Menteri Pemuda Dr Abdul Gafur di kantornya yang menyatakan agar saya tetap mau menjabat sebagai Ketua Jurusan Mesin FTUI. Jawaban saya sudah final akan mundur. Maka Dr Abdul Gafur berkata, bahwa kalau saya tetap pada pendirian saya, maka saya mungkin akan dipanggil oleh Menteri. Saya jawab, bahwa saya sanggup menghadap. Benar juga tidak sampai 3 hari melalui tilpun saya dipanggil oleh Menteri. Jam 15.00 saya harus menghadap di Dep. P dan K. di Jalan Sudirman. Waktu Menteri minta supaya saya tetap mau menjabat, saya beritahukan, bahwa ada peraturan Menteri yang melarang tenaga tidak tetap menjabat struktural. Maka Menteri menyatakan, bahwa beliau bisa membuat “exeption” bagi saya. Saya jawab, bahwa saya tidak setuju eksepsi, tetapi saya yakinkan, bahwa sampai kapan-pun kalau Jurusan Mesin membutuhkan saya, akan saya bantu asal tidak me-langgar aturan Menteri. Yang menjadi saya terperanjat adalah pernyataan Menteri, bahwa oleh UI saya sedang diusulkan menjadi Guru Besar. Mes-kipun menteri sudah tahu saya diusulkan menjadi Guru Besar, saya tetap pada pendirian saya. Dari dialog ini saya tahu bahwa mungkin SK Guru Besar saya tidak akan mudah keluar. Waktu itu yang diusulkan dari FTUI Bapak Ir. Abdulkadir, Ir Sri Murni Doelhomid dan saya. Akhirnya yang keluar hanya yang dua. SK saya tidak keluar. Selanjutnya yang keluar adalah SK bagi Dr. Ir. Mohammadi. Waktu saya bertemu dengan Menteri pada tahun 1980 akhir, maka SK saya baru keluar waktu yang menjabat Menteri Prof. Dr. Fuad Hassan pada tahun 1987.

Akhirnya pada permulaan tahun 1981 jabatan Ketua Jurusan Mesin saya serah terimakan kepada Saudara Ir Triwitono, dan saya menjadi dosen luar biasa. Yang memimpin serah terima adalah Sdr Ir.Djoko Hartanto yang mendapat tugas dari Dekan FTUI. Ir. Triwitono sebelumnya adalah pejabat di Ditjen Perhubungan Laut lalu minta pindah ke FTUI dan menjadi tenaga tetap, sedangkan saya waktu masih dinas di TNI-AD tidak pindah menjadi dosen tetap FTUI.

Belum lama saya dikukuhkan sebagai Guru Besar Mesin yang pertama di FTUI, maka minta kepada Kajur Mesin Ir.Budiardjo, supaya mau membuat disertasi sandwich dengan TH.Karlsruhe bersama Sdr.Ir.Made Kartika Dhiputra. Disamping itu ada tugas dari Rektor yang diminta oleh Universitas Hassanudin untuk menunjuk external examinator untuk menguji disertasi Doktor ilmu perkapalan. Maka saya minta izin agar seorang Doktor Mesin dari Jurusan Mesin diiznkan turut serta jadi penguji. Yang saya mintakan izin adah Dr.Ir. Raldi Artono. Dalam penerbangan ke Ujung Pandang Dr.Ir.Raldi Artono berkata kepada saya, bahwa ia bangga dapat menguji Doktor bersama mantan gurunya. Jawaban saya lebih terfokus, bahwa saya jauh lebih bangga dapat menguji bersama mantan mahasiswanya Dengan demikian saya yakin, saya tidak salah cara mendidiknya. Dalam hati saya, saya berdoa semoga masih banyak tenaga muda yang dapat saya bantu meningkatkan tangga pengetahuan akademisnya.

Pada akhir tahun 2006, pada umur saya yang 81 tahun akhirnya saya telah membantu beberapa orang dosen FTUI menyelesaikan disertasi doktornya. Dosen yang saya kirim keluar negeri menjadi Doktor ialah Dr.Ir.Raldi Artono dan sekarang sudah Profesor. Dosen yang terakhir saya programkan saya kirim ke luar negeri adalah Dr.Ir. Idrus. Bahkan waktu saya ke Brussel berkesempatan meninjau labnya di Leuven. Empat orang dosen Jurusan Mesin saya antarakan menjadi Doktor. Yang 2 orang sudah menjadi Profesor. Dengan Dr.Ir.Raldi Artono saya menguji sebagai external examinator di Universitas Hassanudin sejumlah 5 orang calon Doktor. Beberapa diantaranya sekarang sudah Profesor. Sebagai external examinator di ITB seorang dan sekarang sudah Profesor setelah saya kirim sebagai post doctorate researcher ke Jerman. Di FTUP saya usulkan 6 orang jadi Profesor di FTAJ seorang dan di ISTN 2 orang.

Dewasa ini pada umur saya yang “baru” 81 tahun masih aktif mengajar di FTUI, ISTN dan FTUP.

Selama menjalani hidup ini saya tetap konsisten “mencerdaskan” bangsa sesuai dengan Pembukaan UUD-1945. Orang cerdas itu tentu tidak bodoh. Kalau ia pinter bisa memanfaatkan kepintarannya untuk kepentingan bangsa. Memang ada orang pinter tetapi tidak cerdas karena buta memanfaat kan kepinteraannya untuk kepentingan bangsa. Justru kepinterannya digunakan untuk membodohkan bangsa.

Akhir kata moga tulisan saya dapat digunakan bagi generasi penerus.

Jakarta, 9. Oktober 2006

categories Published under: Ir Suhari Sargo, Ir. Poerwoto, Ir.Slamet Dirham, Mahar Mardjono, Nakoela, Noenik Soemartoyo, Triwitono, bahasa Prancis, biji salak, jurusan Mesin


Leave a message or two

This post was written on the Tuesday, October 2nd, 2007 at 8:57 am and categorized under Ir Suhari Sargo, Ir. Poerwoto, Ir.Slamet Dirham, Mahar Mardjono, Nakoela, Noenik Soemartoyo, Triwitono, bahasa Prancis, biji salak, jurusan Mesin. You can follow the ongoing discussion by subscribing to the RSS 2.0. You can leave a reply, or Trackback.


19 comments so far



  1. ridho wrote on 23. April 2008 at 2:14 pm o'clock                  

    wah,,,luar biasa ternyata Prof Nakula,,

    Profesor melahirkan Profesor,,

    sangat2 menginspirasi kita yang muda yang masih duduk di bangku kuliah untuk bisa berbuat lebih untuk sekitar,bangsa,keluarga,dan diri sendiri,,,

  2. vincent wrote on 13. February 2009 at 4:43 pm o'clock                  

    kita minta doa saja dari Prof Nakoela
    agar Prof Raldi dan Prof2 lainnya juga bisa menelurkan Prof2 yang berguna dana mantap untuk terus menggenggam tongkat estafet DTM.

  3. baiqunni wrote on 17. February 2009 at 12:13 pm o'clock                  

    bagus pak, doakan kami juga pak.

  4. octaviandy ss wrote on 17. February 2009 at 1:21 pm o'clock                  

    pak saya sangat suka dengan biografi prof nakula ini dan saya salut sama Prof. Nakula. sudah setua ini pemikiran dan kecerdasannya masih sangat gemilang dan apalagi msh ngajar dikampus lain slain FTUI. apa prof nakula msh eksis dengan pekerjaan yang lain slain menjadi dosen????

    mudah-mudahan profesor2 yg lain dapat mengikut jejak2 dan semangat prof nakula. terutama bapak sendiri, prof raldi. Amin

  5. herowiko wrote on 24. February 2009 at 2:13 pm o'clock                  

    setelah membaca keseluruhan dan memahami sekelumit sejarah teknik mesin ui, ternyata teknik mesin ui telah melalui sejarah yg panjang untuk bisa menjadi seperti sekarang berkat jasa generasi2 terdahulu terutama Prof.Nakoela.
    semoga generasi berikutnya dapat melanjutkan sejarah hebat ini dengan melahirkan sejarah2 hebat yang baru. Amin.

    ===============

    ok thx.-
    Ral.-

  6. Reka M'08 wrote on 31. January 2010 at 3:57 pm o'clock                  

    Setelah membaca trilogi sejarah teknik mesin UI, kesan yg timbul adalah sangat inspiratif (membuka mata saya ttg cara memandang kehidupan) dan disampaikan dgn baik oleh Prof Nakoela. Ternyata kesuksesan memang bermula dr perjuangan. Beliau memang seorang ‘anak mesin sejati’ diliat dr pola pikir, kemampuan mengambil kputusan dan etos kerja. Klo bisa tulisan2 inspiratif dr dosen kaya gini dprbanyak donk prof, bwt mmbuka pandangan mahasiswa ttg berbagai masalah yg mngkin trjadi kedepannya. Salam dr saya untuk Prof Nakoela di manapun beliau berada…
    Thanx

  7. Reginald wrote on 15. December 2014 at 11:34 pm o'clock                  

    iodinate@wounding.movement” rel=”nofollow”>.…

    hello….

  8. greg wrote on 16. December 2014 at 8:32 am o'clock                  

    gordons@felske.vast” rel=”nofollow”>.…

    ñïñ çà èíôó!…

  9. Floyd wrote on 26. December 2014 at 3:26 pm o'clock                  

    prefabricated@enquetes.confirming” rel=”nofollow”>.…

    áëàãîäàðþ….

  10. Jose wrote on 26. December 2014 at 8:36 pm o'clock                  

    adamantly@wild.paean” rel=”nofollow”>.…

    thank you!!…

  11. Dave wrote on 16. January 2015 at 2:01 am o'clock                  

    cobblestones@swiped.subpenaed” rel=”nofollow”>.…

    ñïñ çà èíôó….

  12. Alexander wrote on 16. January 2015 at 2:33 am o'clock                  

    unnecessarily@basil.child” rel=”nofollow”>.…

    áëàãîäàðåí!!…

  13. Alberto wrote on 16. January 2015 at 3:04 am o'clock                  

    schedules@deeply.selflessness” rel=”nofollow”>.…

    thanks….

  14. kelly wrote on 16. January 2015 at 3:35 am o'clock                  

    aware@praised.pedagogical” rel=”nofollow”>.…

    ñïñ!!…

  15. leo wrote on 16. January 2015 at 4:06 am o'clock                  

    pbs@packing.nutrient” rel=”nofollow”>.…

    thanks for information!!…

  16. clayton wrote on 30. January 2015 at 6:52 pm o'clock                  

    regency@condemning.floured” rel=”nofollow”>.…

    thank you!!…

  17. Leslie wrote on 04. February 2015 at 1:26 am o'clock                  

    tried@indicating.caron” rel=”nofollow”>.…

    ñýíêñ çà èíôó!…

  18. bruce wrote on 08. February 2015 at 7:21 pm o'clock                  

    elevates@regularly.portraits” rel=”nofollow”>.…

    ñïñ çà èíôó….

  19. Daryl wrote on 12. February 2015 at 9:20 pm o'clock                  

    viewer@globally.scot” rel=”nofollow”>.…

    ñïñ çà èíôó….

Name (required)

Email (required)

Website



XHTML: The following tags are allowed:

    <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Please leave a comment








  • Categories

  • Tags

  • Archives