Raldi A. Koestoer | Recently... | Elsewhere | Search | Login |

This is the area where you can put a text about yourself or your blog. You can change the colours and the layout as you like, but please keep the footer link the way the way it is so that other can find the way back to me. Thanks for using this theme, I really appreciate it. This theme is released under those Creative Commons terms of use. And now ENJOY and get blogging!

continue reading this article






fancy

Dari Indi tentang Madrasah Ibtidaiyah

22 10 2008

0

***

Komentar dari Indi saya maximize

***
Baca Laskar Pelangi jadi inget Madrasah Ibtidaiyah (MI) swasta miskin tempat saya dan ketujuh adik saya bersekolah di pinggiran Jakarta, deket persawahan.

Sekolahnya juga jelek, fasilitas seadanya, kalau hujan banjir, tapi kami kok ya cintaaa banget dan bangga sama sekolah ini. Di zaman saya sekolah di sana dulu, bahkan sekolah kami jadi juara umum aneka lomba antar MI se-Jakarta Barat, mengalahkan sekolah2 dari kota yg fasilitasnya lebih baik. Bolos dari sekolah ini sama dengan rugi. Adik saya bahkan tidak mau absen dari sekolah saat dia sakit demam berat, saking senang dan cintanya belajar di sana.

Kebetulan saya waktu SD sekolah dua, pagi di SD negeri, sore di MI swasta yg miskin ini. Teman2 SD saya bingung bagaimana saya begitu bangga dan cinta dengan MI saya yg bangunannya jelek dan kelasnya terbatas.

Mereka tentu tidak mengerti bahwa sekolah kampung yg miskin itu sudah menerapkan metode yg sekarang orang2 kota rela membayar mahal bagi kemajuan anaknya, “Sekolah Alam” dan guru2nya mengajar dengan konsep yg menyenangkan.

Memang sudah saatnya konsep pendidikan di negeri ini diubah. Materi bukan lagi yang utama, yang penting adalah hati, tekad dan niat.

Indiratiarani.-

categories Published under: Madrasah, Pendidikan
Tags:


Leave a message or two

This post was written on the Wednesday, October 22nd, 2008 at 8:43 am and categorized under Madrasah, Pendidikan. You can follow the ongoing discussion by subscribing to the RSS 2.0. You can leave a reply, or Trackback.


No comment



  1. yuyu djafar wrote on 23. October 2008 at 10:14 am o'clock                  

    Mungkin sedikit menyimpang dari cerita di atas..

    Kenapa ya..bila menyebut kata “sekolah” dengan kata “madrasah”, akan terbesit imagi yang kumuh, miskin, kampungan atau kata padanan lainnya, skalipun madrasah tersebut telah mendapat predikat “Model” (madrasah model) yang diartikan sebagai unggulan….padahal 2 kata (sekolah-madrasah) tsb mempunyai arti yg sama…

    Sementara anak yg lain ngebet masuk ke sekolah Negeri/swasta, anak sy malah merajuk untuk daftar ke MtsN (level SMP). pertimbangannya cukup sederhana, “mata pelajaran di sini sama sj yg diskolah umum, malah bhs inggris dan arabnya menjadi bhs prioritas (spt di pesantren)”.

    Menurut sy, karena anaknya yg mau+ yg akan merasakannya, akhirnya sy mengiyakannya, dan ternyata skolah tsb memp. fasilitas untuk pembelajaran berbasis kompetensi yg bagus (tdk berbeda), kurikulumnya paduan umum+agama (plus dong ya), Eskulnya jg tidak kalah sm yg ada di skolah umum/swasta…tapi tanggapan dr bbrp org terdekat dan teman kelihatan kurang bagus, ini krn imagi yg kurang enak tsb ttg madrasah sudah melekat dan bahkan mungkin sudah berakar..

    Apakah karena ada label/simbol “agama di dalamnya”..? sy tidak tau, knp banyak orang yg phobi terhadap label agamanya sendiri. Sedihnya lagi justru terkadang membanggakan label/simbol yang lain.

  2. Indi wrote on 26. October 2008 at 7:13 pm o'clock                  

    Wah kaget sekaligus tersanjung saya komentar simple saya malah dihighlight di blog ini. Terima kasih.

    BTW, saya setuju dengan komentar di atas. Memang saat mendengar kata Madrasah, tanggapan orang-orang adalah sekolah kampung dengan kualitas di bawah sekolah umum. Sebagian mungkin benar, tapi banyak juga yang tidak seperti itu.

    Kebetulan setelah di MI itu, saya dan ketujuh adik saya juga melanjutkan MTsN.
    Oh ya, kami sendiri yang memilih ke sekolah2 itu, bukan atas paksaan orang tua kami. Orangtua kami senang2 saja karena paling tidak anak2nya jadi mendapat dasar agama yang kuat. Kami sama sekali tidak merasa salah pilih sekolah. Tapi saya juga tahu banyak madrasah lain yang pelajaran umumnya sangat kurang, sehingga saat mereka melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi, mereka kalah bersaing dari anak2 sekolah umum.

    Saya pikir saya dan adik2 saya beruntung karena madrasah kami malah mengajarkan ekstra daripada hal2 yg didapat anak2 sekolah umum, bukan cuma ekstra materi pelajaran agama, tetapi juga dalam beberapa hal kami bahkan lebih maju untuk materi pelajaran umum, semua berkat dedikasi beberapa guru kami yang luar biasa.

  3. Ari Ishfahani wrote on 24. April 2009 at 2:23 pm o'clock                  

    Saya ingin tahu sekolah ibtidaiyah tersebut namanya apa dan alamatnya, terima kasih

Name (required)

Email (required)

Website



XHTML: The following tags are allowed:

    <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Please leave a comment








  • Categories

  • Tags

  • Archives