Raldi A. Koestoer | Recently... | Elsewhere | Search | Login |

This is the area where you can put a text about yourself or your blog. You can change the colours and the layout as you like, but please keep the footer link the way the way it is so that other can find the way back to me. Thanks for using this theme, I really appreciate it. This theme is released under those Creative Commons terms of use. And now ENJOY and get blogging!

continue reading this article






fancy

Guru Besar FTUI main Musik

1 11 2008

8

Perkembangan Musik di FTUI

(Awalnya para Guru Besar Fak Teknik UI bermain musik)

Oleh: Raldi A. Koestoer

**00**

Tokoh-tokoh dalam bualan kosong ini:

Mas Gotty Prof Dr Ir Triatno Yudoharjoko, Guru Besar bidang Arsitektur.

Mantan Ketua Dept Arsitektur.

BS, Budisus Prof Dr Ir Budi Susilo Supandji, Dirjen Pothan Dephan, Guru Besar bidang Teknik Sipil.

Mantan Dekan FTUI.

Bangsugi Prof Dr Ir Bambang Sugiarto M Eng, Dekan FTUI, Guru Besar Bidang Combustion (T. Mesin).

Dekan FTUI.

Raldi, Ton Prof Dr Ing Raldi Artono Koestoer, Guru Besar bidang Heat Transfer (Tek Mesin).

Mas Abim Prof Dr Ir Abimanyu, Guru Besar bidang Arsitektur.

Nudiarso Dr Ir Budiarso M.Eng. Dosen Teknik Mesin.

Wakil Direktur DRPM UI

Nanta Ir Guananta, instruktur musik, alumni T Mesin, kerja di Properti.

Kemal Ir Kemal Darwis, MC nya Fak Teknik dari dulu sejak mhs.

Singkatan-singkatan:

A, Ars, A68 Arsitektur, Angkatan masuk tahun 1968.

M, M80 Mesin, masuk tahun 1980

TGP Teknik Gas Petrokimia

Mt Metalurgi (jurusan atau Departemen di FTUI).

**00**

Ini cerita tentang bagaimana para dosen teknik UI memanfaatkan waktu relaksnya dengan berbagai kegiatan. Beberapa dosen yang gemar bermusik, dalam hal ini kebanyakan dulunya juga mantan pemain band dan vokal group di tahun 70 an. Bermula dari inisiative pak Budiarso dosen dari Teknik Mesin yang berusaha mengumpulkan mantan mahasiswa angkatan 60-70-80 yang jadi dosen, dengan sedikit fasilitas pihak dekanat (waktu itu pak Bud Pudek II FTUI dekannya Prof Djoko), jadilah berkumpul di lantai 1 dekanat. Diantaranya mereka itu mas Abim (dari Ars nama lengkap dan gelarnya nanti aja deh kalo gak nulisnya bingung), mas Gotty (Ars) , saya sendiri Raldi (M), mas Budiarso (M), Bangsugi (M). Masih ada lagi dari Elektro pak Arifin Jauhari, bu Endang (E) adalagi ibu MMX (sy lupa namanya) dari TGP, Danardono (M). Andi Noorzaman (TGP). Banyak juga partisipan lain yang walau tak bisa main musik tapi aktif ikut nyanyi rame2 Anis, Dedi (Mt) dan juga Eddy Siradj (Mt). Semua ini dengan alat bawa sendiri dan satu ampli fakultas yang bukan untuk band.

Kira-kira itu tahun 1997, setelah beberapa lama main dengan acak-acakan mulailah terasa ada beberapa kekurangan. Misalnya kami tak punya Keyboard dan ampli yg ada terlalu jelek untuk dimainkan band. Muncul ide mas Abim untuk saweran ngumpulin duit tiap bulan 100 rb. Jadilah kita mulai kumpul-kumpul duit. Dan alhamdulillah karena partisipannya cukup banyak adalah sekitar 15 an orang, maka duit yg terkumpul cepat juga numpuknya. Bangsugi dan budiarso inget banget nih belanja nya, mereka bisa cerita lebih banyak (mungkin di pasar rumput kali ya… hik hik.. barang bekas dong…)

Jadilah suatu hari kami bermusik dengan Keyboard Casio (kalo ini baru koq) yg harganya waktu itu 3,5 jt dan drum baru. Mas Abim kelihatan senang… bakatnya bisa tersalurkan. Semua lagu dinyanyi’in mulai dari jaman twist th 60 an sampai waktu itu breakdance nya Michel Jackson. Pak Gotty selalu serius bawa gitar Fendernya. Beliau selalu menawarkan jazz tapi yang lain pada buang muka lebih seneng ngepop, termasuk saya yang pegang bas waktu itu. Bas gitarnya anak saya punya tuh yang biru.

Dosen yang ikut tentu datang dan pergi kadang aktif kadang gak nongol 3 bulan. Dan setelah lewat dua tahun tersaring jugalah siapa-siapa yang memang dari dasar hatinya adalah seniman musik asli. Walau tak ada uang, walau karier macet, bahkan ada juga yang sekolah S2 dan S3 nya tersendat dan macet… tapi guyz… musiknya jalan terus tak pernah mati. Mereka itu saya sebut saja karena cerita ini akan jadi sejarah di kemudian hari:

Abim, Gotty, Budiarso, Raldi, Bangsugi.

Salut banget buat manager kita Budiarso yang dengan sabar melayani kebutuhan para musikus amatir yang sok jago musik ini padahal kemampuan mainnya pas-pasan aja. Tak pernah beliau lupa menyediakan minum pisang goreng tahu tempe. Masang kabel beli kabel, nyetel ampli, pinjem mic nyiapin buku lagu dan lirik.

Kami beruntung mempunya mhs-mhs yang jago musik yang selalu kami ajak main bersama. Kebanyakan juga dari mhs mesin karena hub kedekatan dg kami para dosennya. Seringkali mereka ini mhs yang bandel, biar besoknya mau UTS atau bahkan UAS, malamnya main musik bersama kami sampai larut malam. Misalnya nih si Sape gemuk pendek anak Mesin 96 basist saya gak tahu nama lengkapnya siapa. Ditengah istirahat main udah jam 10 mlm, sy ngobrol ama dia. “Pe… lo ujian kapan ?” Dia jawab santai aja “Besok pak..” gila ni anak “Koq lo gak blajar pe..” Sambil senyum dan ngerokok di gang dia jawab “Ah yang besok ya urusan besok lah, sekarang ini kita main band dulu.”

Banyak juga karyawan yang sering main musik bersama. Yang saya ingat si Puji, Budi, Ahmad dan sekarang ditambah dengan beberapa karyawan baru yang saya tak ingat namanya. Budiarso yang paling tahu…- ntar tambahin mas Bud -.

Era berganti, pejabat-pejabat berganti, Dekan dan Pudek Wadek juga ganti. Sampailah Budi Susilo jadi Dekan tahun 2000an. Beliau sering ikut nyanyi walau sering mat nya gak cocok, selalu telat masuk. Keyboardnya pun direlakan untuk selalu dipinjam oleh the so called

–Bigband FTUI- ini.

Sampai suatu saat gedung dekanat FTUI terbakar, ikutlah terbakar keyboardnya sampai cuman tinggal lempengan-lempengan pelat tipis aja. Untungnya saat itu alat band ampli dan lain2 ditarok dibawah lantai 1, jadi gak ikut kebakar. Gitar saya bo’… (akustik) ampe gak ada bekasnya karena saya tinggal di lt 2.

Sambil lalu dosen-dosen kita ini melanjutkan pendidikan ke tingkat S2 dan S3. Jadi suka ada yang pergi ke LN berbulan-bulan. Bahkan ada yang bertahun-tahun. Baliknya main lagi. On-off gitulah pokoknya. Disamping ada yang menjabat ini itu, jadi sering kali absen main musik. Kemudian juga karena main tanpa target dan tidak ada target perform (tampil di acara tertentu). Tidak pernah ada lagu yang dilatih tuntas… Istilahnya POKOKNYA HAPPY. Suara fals dan melengking gak nyampe-pun tak jadi masalah. Paling sering main di nada C karena gampang. Yang mau nyanyi musti ngikutin yang main musik, karena kemampuan terbatas jadi gak mau ganti-ganti nada lain yang susah. Itulah ciri band kita ini.

Suatu hari di tahun 2000. Budiarso ngomong ke saya ” Ton… koq lo gak nyiptain lagu lagi ?” Saya terhenyak mendengar pertanyaan itu. Karena dulu waktu mahasiswa tahun 70 an saya pernah mencipta lagu bersama almarhum Widianto Wiriaatmaja (A68). Mhs angkatan 75-85 FTUI masih sering menyanyikan lagu kami. Juga group Pencinta Alam KAPA-FTUI sering menyanyikan ‘Doa untuk dia’ dan satu lagi ‘Agung’.

Kembali kepada tantangan Budiarso tadi. Mulailah saya centang centing di rumah pakai gitar nyoba-nyoba nyipta lagu lagi. Tentunya semua itu saya sesuaikan dengan selera musik saya yaitu musik pop. Jadilah satu lagu yang saya rekam di kaset dengan main gitar dan nyanyi – na na na dan ni ni ni. Rekaman kaset amburadul itu saya serahkan ke Bangsugi, untuk dia bikinin liriknya. Karena saya tahu bangsugi ini sering bikin puisi dalam posting emailnya. Ngasi kasetnya pake ngancem “Mbang ni kaset lagu ciptaan sendiri… seminggu musti jadi ye”. Responsnya memang cepat. Pastinya itu bukan karena takut sama ancaman saya tapi beliau ini memang berbakat, dan mustinya bisa nyaingin Taufiq Ismail ataupun Ismail Marzuki, sayang aja dia kebanyakan belajar dan sekolah jadi kemampuannya bertutur indah jadi menciut. Belum seminggu udah jadi. Lagu pertama kolaborasi ini judulnya EMPATI. Dan waktu kita nyanyiin bareng lagi latihan… koq enak ya… gak salah nih… apa ini karena narsis mau enak-enakan sendiri ajah ?

Tapi teman lain yang ada disitu juga bilang enak, paling nggak komentarnya ‘lumayan’. Dengan begitu saya jadi tambah semangat. Terus saya bikin beberapa yang lain dan saya kasi Bangsugi, dan beliau respons dengan baik. Ada juga yang tidak kami tuntaskan, ujung-ujung refrain misalnya. Jadilah dua lagu menyusul yaitu ’Melayang jauh’ dan ’Keresahan’. Saya sampai kalo nyanyiin lagu melayang ini biasanya dulu sama bangsugi dan mas Abim, itu keringetan. Saking emosinya, gak tahu kenapa tuh. Setelah sekian tahun kami jarang menyanyikannya tahun ini kami coba nyanyiin waktu homecomingday UI, waktu poertama kali nyanyi lagi saya tuh ampe mbrebes-mili keluar airmata. Wuah malu critanya nih. Bang…lanjutin dong. Lo gimana pengalamannya ?

Pendeknya jadilah 6 lagu, tidak terlalu sering kami nyanyikan karena…. malu. Koq sok tahu bener sih. Dosen sok nyiptain lagu… orang bilang pasti gak enak… begitu kami selalu berpikir. Tapi terus terang aja buat kami berdua saya dan bambang, lagu kami itu… jujur aja…UUUEENNAAK TENAN. Bodo’ deh orang bilang apa…

Waktu awal dulu tuh jamannya reformasi, yang Guru Besar (GB) cuman BS aja. Beliau memang dosen yang brilian. Karena luaama jadi dosen akhirnya yang lain nyampe juga dong jadi GB. Mula2 saya dulu th 2006 jadi GB, menyusul Bangsugi 2007 dan mas Gotty, menyusul tahun ini mas Abim jadi GB. Dan sebentar lagi… gak akan lama nih krn prosesnya udah jalan mas Budiarso akan jadi GB juga, kita doakan.

And tahu-tahu si BS beli alat tiup. Gak tanggung2 banyak yang dibeli. Ini saya curiga, sejak jadi Dirjen Pothan di Dephan, beliau baru punya duit lebih. Sekaligus dia beli Saxophone alto, saxo sopran, flute dan klarinet. Kurang kerjaan gak tuh… Baru saya ajarin sekali nada-nada untuk flute. Sekarang udah sering mendesak-desak pengen tampil disemua kesempatan. Wuah… kayanya gak beres nih kemana aja dari dulu baru tahu kalo main musik itu enak. Ini saya berani ngeledek begini karena teman seangkatan. Kalo orang lain sih pasti gak berani.

Pada suatu kesempatan Halal Bihalal di FTUI beberapa tahun yang lalu. Selingan musiknya di-isi oleh bandnya Ir Guananta (Nanta). Yang di-announce juga saat itu, bahwa beliau itu juga alumni dari Teknik Mesin (M80 seangkatan bangsugi). Anaknya Iyan ternyata juga mhs Mesin angk 2006, yang dalam berbagai kesempatan lain kami sering main musik bersama di beberapa tempat. Mereka ini sekeluarga ternyata musikus banget. Semua jenis lagu dari yang susah model jazznya Al-Jarreau sampai dangdut mereka bisa mainkan. Pada reuni alumni FTUI tgl 02 Nop 2008 y.a.d. ini Nanta jadi penanggung-jawab acara hiburan musik. Jadilah dua hari lalu kami berlatih bersama di studio 48 bersama Satrio yang menabuh drum.

Namun sebelum itu, perlu saya singgung sedikit tentang Homecomingday UI (HCD-UI) bulan Juli lalu. BTW Bangsugi sudah jadi Dekan FTUI, sedangkan panitia HCD banyak alumni Teknik. Saya SMS lah Dekan kita ini ”Mbang kita musti muncul dong di acara musik ini, biar bisa tampil diantara band lain yang sudah terkenal. Kamu yang urus gimana bisa masuk acara HCD, saya urus latihan musik kita.” Mbatin saya dalam hati… kalo bersaing sama bend terkenal gini, kami-kami ini harus di backup sama pemusik pro juga kayanya. Si Nanta lah dan anaknya si Iyan yang jadi pilihan saya karena mereka kelihatan sudah profesional mainnya. Bapak dan anak ini satu jenis sama aja ama saya masuk di jurusan Teknik Mesin ini sebenarnya tersesat. Kami sebetulnya lebih cocok untuk memilih jalur musik saja sebagai sandaran kehidupan. Tapi soal nasib itukan Tuhan yang nentuin, jadi biarlah seperti apa adanya begini aja., kenapa hidup ini dibikin susah?

Dalam acara HCD itu kami diperkenalkan oleh MC si Kemal cs sebagai Band ”Si Biru… atau bahasa Inggrisnya…BLUE BAND”, begitu mereka teriak dengan keras. Dan memang lagu pertamanya lagu ciptaan kami namanya Si Biru (lengkapnya Si Biru Kijang Pantherku). Tiga lagu ciptaan kami berkumandang dan mendapat sambutan yang hangat dari penonton. Mereka tidak menyangka bahwa Dekan FTUI (Prof Bambang) juga ternyata mampu bahkan bagus lagi, mencipta lagu. Ada beberapa kesalahan kecil pada penampilan itu, tapi toh orang gak nyadar. Sejak itu banyak alumni yang menginginkan kami Si Biru untuk tampil. Dan kami sering disebut sebagai The Professor yang piawai bermain musik.

Menjelang acara reuni akbar alumni FTUI 02 Nop 08 , kami diminta lagi untuk mengisi acara musik bersama dengan group lain. Diminta juga utk mengajak GB Fak Teknik lainnya, jadi mau ditampilkan GB FTUI yang critenye piawai bermain musik. Demikian si Kemal panitia mempopulerkan kemana-mana tentang GB yang bermain musik ini. Karena waktu sempit saya sendiri hanya mengontak mas Gotty sebetulnya, sedangkan BS sdh kirim SMS beliau katanya diminta bbrp alumni utk tampil juga. Jadilah akhirnya kami latihan sekali di studio 48. Bahkan Budiarso sendiri tak diberitahu (wong sy gak biasa jd manager, dan merasa selalu ingin dilayani dan tidak pernah melayani… hik-hik khas melayu). BS lagi minta lagu Danny Boy dan Too Young, lagu tua banget tuh tapi yah biarin deh udah berat-berat dia bawa saxonya kalo gak ditiup kan kasihan. Ih…. ini bualan koq ngeledekin orang melulu sih.

Dan tentunya saudara2ku sekalian 3 lagu si Biru dibawain dong oleh Dekan Bangsugi. Bahkan satunya diganti dengan lagu gubahan kami yang ke 4 yaitu ’Jakarta Kota Kita’. Si satrio aja ampe kesengsem ama tu lagu.

Dari pembicaraan telpon tadi ama si Kemal, berhubung dia yang memperkenalkan group musik Guru Besar ini ke media massa termasuk juga ke TVone, saya bilang begini:

”Mal ini kita lagi kirim2an sms utk kasi nama group ini. Kalau dulu sih Bigband FTUI, tapi skr krn mau ditonjolin Guru Besarnya, kita2 ngusul baru. Mas Gotty ngusul GB-TUNE, sedangkan saya ngusul ‘De-ProfTek’ ini masih kita godog”.

Dasar cablak si Kemal ini langsung teriak di telpon.

“Nah De-ProfTek cocok tuh mas, saya orang awam ngliatnya enakan itu tuh”. Karena kan semua dari Fak Teknik asalnya.

Yah sementara saya pakai nama itulah. Kalo ntar mau diganti lagi kan gampang. Intinya sementara ini Bangsugi, Gotty, Raldi, Budisus ditambah satu pengawal Nanta. Ini buat tgl 02 Nop dulu, en nanti buat acara 2 minggu lagi, BS udah bilang gak bisa tuh…gimana ntar deh.

Aduh udah pegel nih saya nulis (ngetik di komputer deng…). Gini dulu ya. Terutama buat si Kemal nih yang katanya malam ini juga nungguin bualan kosong ini. Bila ada kata-kata yang kurang berkenan, saya mohon maaf.-

(Ral, 30 Okt 08, 23.21 WIB, updated 31Okt08 07.18)).-

categories Published under: Band FTUI, Musik, guru besar, jazz, kehidupan, music play
Tags:


Leave a message or two

This post was written on the Saturday, November 1st, 2008 at 10:59 pm and categorized under Band FTUI, Musik, guru besar, jazz, kehidupan, music play. You can follow the ongoing discussion by subscribing to the RSS 2.0. You can leave a reply, or Trackback.


8 comments so far



  1. van wrote on 04. November 2008 at 6:19 pm o'clock                  

    wahhhhh panjang banget ceritanya….. tapi TEKNIK the best lah… bukan cuma mahasiswanya,,, tapi juga dosen-dosennya….

  2. broer wrote on 23. February 2009 at 1:13 pm o'clock                  

    mantap.. coy

  3. walter wrote on 26. August 2014 at 3:45 pm o'clock                  

    justification@drew.womanly” rel=”nofollow”>.…

    hello!…

  4. floyd wrote on 21. November 2014 at 12:47 pm o'clock                  

    lithium@speculating.squealed” rel=”nofollow”>.…

    áëàãîäàðñòâóþ….

  5. dean wrote on 21. December 2014 at 7:12 pm o'clock                  

    reuben@homestead.arlens” rel=”nofollow”>.…

    ñýíêñ çà èíôó!!…

  6. frederick wrote on 15. January 2015 at 11:09 am o'clock                  

    homosexuals@escalation.kearton” rel=”nofollow”>.…

    ñýíêñ çà èíôó!!…

  7. Johnnie wrote on 06. February 2015 at 8:10 pm o'clock                  

    impinging@debut.gimbel” rel=”nofollow”>.…

    good!!…

  8. virgil wrote on 08. February 2015 at 8:18 pm o'clock                  

    cheetah@herrin.guiltless” rel=”nofollow”>.…

    áëàãîäàðñòâóþ….

Name (required)

Email (required)

Website



XHTML: The following tags are allowed:

    <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Please leave a comment








  • Categories

  • Tags

  • Archives